Tarif Buncit MCK, Orang Tua Ancam Jemput Anak Hingga Guyonan BAB di Belakang Tenda Pramuka

Tarif Buncit MCK, Orang Tua Ancam Jemput Anak Hingga Guyonan BAB di Belakang Tenda Pramuka

Foto: Istimewa

Transsulawesi.co, Toili -- Tarif MCK diperkemahan Pramuka Toili tak kunjung temui tituk terang hingga saat ini. Dimana menurut masyarakat dan juga peserta Pramuka kemah prestasi, tarif MCK tersebut cukup memberatkan peserta.

Ketua panitia Kemah Prestasi Toili, Risman Sarifudin juga membenarkan apa yg menjadi kisruh saat ini. Sampai-sampai mengancam akan menutup kegiatan pramuka kemah prestasi di Toili lebih cepat dikarenakan masifnya keluhan orang tua peserta.

Dari informasi yang didapatkan Transsulawesi, Senin, (8/8/2022), diduga adanya miss komunikasi antara pihak panitia kemah prestasi Toili dengan Pemerintah Desa Bukit Jaya sejak awal.

Adapun untuk tarif MCK sebelumnya di usulkan sekitar Rp.2000-3000 mandi ataupun BAB. Namun tarif tersebut tidak menemui kesepakatan. Kemudian muncul tarif baru yang disepakati desa yakni dengan harga Rp.5000 untuk mandi. Namun tarif tersebut kembali naik menjadi Rp.7000 untuk sekali mandi.

Tak menunggu lama, orang tua peserta merasa keberatan atas tarif mahal tersebut. Ramai orang tua peserta kemah prestasi di Toili ancang-ancang untuk menjemput pulang anak mereka.

Memang pendapatan dari jasa MCK tersebut bertujuan masyarakat bisa diberdayakan dan juga ikut ambil peran alam mensukseskan kegiatan kemah pramuka di Toili.

Namun setidaknya melihat semangat pramuka Indonesia tentunya tarif tersebut perlu di tinjau kembali.

Hingga saat ini, solusi untuk tarif buncit tersebut belum menemui titik terang juga. Dimana pihak panitia dan pemerintah desa belum menemui kesepakatan yang kiranya bisa menemui titik terang.

Banyak suara-suara orang tua peserta yang mengancam menjemput pulang anak mereka. Bahkan dalam sosial media orang tua peserta terang-terangkan menulis akan menjemput anak mereka sore ini.

"Sabantar sore OTW JEMPUT saya pe anak di Perkemahan Toili.

Somo kase pulang saja.
Ini kegiatan bukan ba latih anak sesuai Dasa Dharma ke 7..
Tapi cuma ajang baku rebe BOROS". Tulis akun Amlin Usman.

Tidak sinerginya antara pihak panitia kemah prestasi dengan pemerintah desa terlihat jelas pada kesepakatan tarif MCK yang menurut salah satu sumber bahwa pihak panitia pramuka diduga tidak di undang dalam kesepakatan tarif MCK tersebut.

"Kami tidak di undang dan tidak tau soal kesepakatan tarif itu, karena itu domainnya pemerintah desa setempat kan," ujar sumber yang minta tidak disebutkan namanya.

Dari kisruh ini beberapa hal yang perlu di perhatikan yakni panitia pramuka dan pemdes Bukit Jaya perlu bersinergi. Mengingat peserta yang mengikuti kegiatan pramuka di Toili adalah generasi Kabupaten Banggai kedepannya.

Warganet pun ikut meramaikan dengan guyonan jangan sampai anak peserta BAB di belakang tenda karena kehabisan uang.

Mhr

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.