
Capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Maruf memasuki tempat debat pertama Pilpres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Transsulawesi.com, Jakarta -- Survei Litbang Kompas pada Maret 2019 menunjukkan elektabilitas Jokowi - Ma'ruf menurun hingga di angka belum aman di bawah 50 persen, sementara Prabowo - Sandi menguat. Dikutip dari Harian Kompas, Rabu (20/3), elektabilitas Jokowi - Ma'ruf memperoleh 49,2 persen, Prabowo - Sandi memperoleh 37,4 persen suara, dan sisanya 13,4 persen menyatakan masih rahasia atau belum memilih.
Jika dibandingkan dengan hasil survei Litbang Kompas pada Oktober 2018 lalu, maka elektabilitas Jokowi - Ma'ruf menurun dari 52,6 persen menjadi 49,2 persen. Sementara elektabilitas Prabowo - Sandi menguat dari 32,7 persen menjadi 37,4 persen.
Data ini menunjukkan, ada perubahan suara pemilih selama enam bulan terakhir. Survei Oktober 2018 memperlihatkan jarak elektabilitas paslon nomor urut 01 dan 02 sekitar 19,9 persen, sementara pada survei Maret menunjukkan jarak keduanya menyempit menjadi 11,8 persen. Artinya, selama enam bulan terakhir, ada pergeseran dukungan dari Jokowi - Ma'ruf dan Prabowo - Sandi.
DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Sumatera menjadi daerah yang masih berada di cengkeraman Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Militansi yang cukup tinggi dari relawan dan pendukung Prabowo - Sandi tampaknya berpengaruh pada menguatnya dukungan. Di Jakarta, elektabilitas Prabowo - Sandi mencapai 47,5 persen atau unggul 11,2 persen dari elektabilitas Jokowi - Ma'ruf sekitar 36,3 persen.
Selain itu, Prabowo - Sandi juga masih mendominasi di Pulau Sumatera. selisih elektabilitas Prabowo - Sandi dengan Jokowi - Ma'ruf semakin melebar sekitar 13,5 persen.
Pada survei Maret 2019, elektabilitas paslon nomor urut 02 ini mencapai 50,5 persen sedangkan Jokowi - Ma'ruf 37 persen. Jika dibandingkan dengan survei Oktober 2018, elektabilitas Prabowo - Sandi menguat 10 persen dari 40,5 persen. Sementara Jokowi - Ma'ruf hanya naik sekitar 1,1 persen dari 38,1 persen.
Meski demikian, Wakil Sekretaris TKN, Raja Juli Antoni, menjelaskan pihaknya optimistis Jokowi - Ma'ruf bisa menang karena berdasarkan hasil survei beberapa lembaga, selisih suara kedua paslon ini cukup jauh hingga 20 persen. Sehingga menurutnya sulit bagi Prabowo - Sandi untuk mengejar ketertinggalan itu.
"Hasil survei Litbang Kompas memang yang menunjukkan selisih antara 01 dan 02 yang paling tipis (11,8 persen). SMRC akhir pekan lalu menunjukkan selisih yang sangat besar sekitar 25 persen. Namun demikian, selisih sekitar 13 persen dengan margin of error sekitar 3 persen merupakan selisih yang sangat sulit dikejar Pak Prabowo," kata Toni, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/3).
"Kami ucapkan terima kasih kepada Litbang Kompas yang mengeluarkan hasil survei hari ini. Hasilnya akan memotivasi kami untuk bekerja lebih tekun meyakinkan rakyat bahwa Pak Jokowi - Kiai Ma'ruf adalah pemimpin terbaik bagi rakyat," imbuhnya.
Survei Litbang Kompas terbaru menunjukkan, elektabilitas Jokowi-Amin menurun di basis suara mereka jika dibandingkan survei Oktober 2018.
Di Jawa Tengah (Jateng)- DI Yogyakarta, elektabilitas Jokowi - Maruf Amin turun 13,8 persen.
Pada Survei Kompas bulan Oktober 2018, suara Jokowi -Maruf Amin masih mencapai 75,4 persen dan Prabowo - Sandiaga Uno 12,6 persen.
Namun pada Survei Maret 2019, suara Jokowi - Maruf Amin turun menjadi 61,6 persen dan suara Prabowo - Sandiaga Uno naik menjadi 18,4 persen. Serta yang belum memutuskan suaranya sebesar 20 persen.
Di Jawa Timur (Jatim) suara Jokowi - Maruf Amin turun sebesar 12,5 persen.
Pada Survei Oktober 2018, perolehan suara Jokowi - Maruf Amin 69,6 persen dan Prabowo - Sandiaga Uno 18,8 persen.
Namun pada survei Kompas Maret 2019, suara Jokowi-Amin turun menjadi 57,1 persen dan Prabowo - Sandiaga Uno naik menjadi 27,8 persen.
Di Maluku-Papua penurunan suara Jokowi - Maruf Amin sebesar 10,6 persen.
Pada survei Kompas OKtober 2018, Jokowi-Maruf Amin memperoleh suara sebesar 70,0 persen dan Prabowo - Sandiaga Uno 25,0 persen. (mhr)