
JOB-Tomori mendorong program panutan petani Banggai yang merupakan program Agroekologi. Program ini berangkat dari beberapa kendala yang dihadapi petani. Dok/istimewa
Transsulawesi.co, Banggai — JOB Tomori terus mengembangkan beberapa invosi terbaiknya dibidang pertanian. Beberapa program inovasi yang di gagas oleh JOB Tomori berhasil membantu masalah petani di sekitar wilayah operasinya.
Sebagai bentuk pertanian berkelanjutan JOB Tomori mendorong program panutan petani Banggai yang merupakan program Agroekologi. Program ini berangkat dari beberapa kendala yang dihadapi petani. Dimana adanya petani yang masih menggunakan setrum listrik untuk membasmi hama tikus, krisis pengairan, pada lahan pertanian baru, rendahnya penggunaan kompos sebagai pupuk dimana masih minimnya pertanian organik di petani.
Inovasi program pertanian JOB Tomori meliputi unit pengelolaan pupuk kompos berbasis pertanian organik di Kecamatan Toili, teknologi kincir angin untuk malasah krisis air di Kecamatan Batui Selatan, dan eko edu wisata yang mengembangkan burung hantu sebagai predator alami tikus di sawah di Kecamatan Moilong.
Desa Sumber Harjo misalnya, saat ini telah berhasil mengembangkan inovasi program burung Hantu sebagai pemburu alami hama Tikus di sawah. Invonasi ini merupakan dampingan dari perusahaan Migas JOB Tomori yang selama ini berperan aktif peduli kepada masyarakat disekitar wilayah operasinya.
Kades Sumber Harjo, Kecamatan Moilong, Baron Hermanto mengatakan bahwa invosi burung hantu mulai dari 2017. Dimana berawal dari keluhan pertanian yakni hama tikus.
“2017 saya bersurat ke JOB Tomori untuk bantuan pertanian untuk desa Sumber Harjo, dengan bantuan JOB Tomori akhirnya saya berangkat ke kabupaten Demak untuk belajar budidaya burung hantu sebagai predator alami tikus di sawah dan berhasilkan kita terapkan di Sumber Harjo. Ini perjuangan pemdes akhirnya kita bisa jalankan pada tahun 2019,” ujarnya.
Menurut Baron satu ekor burung hantu bisa patroli bisa 5 hektar. 10 unit dan 30 semi unit rumah hantu, dengan total 40 rumah. Rumah burung hantu di pasang di persawahan. Dengan harapan sehingga hama tikus bisa dikendalikan. Sehingga warga tidak lagi memasang setrum yang berakibat buruk dimana jatuhnya korban jiwa.
“Saat ini ada perdes burung hantu. Jika memburu atau menembak burung hantu akan kena denda 100 juta. Kita juga punya inovasi pertanian organik, wisata ini adalah program csr,” ungkapnya.
“Kita dirikan burung hantu bekerjasama dgn JOB Tomori dan BKSDA. Terimakasih kepada JOB Tomori yang telah bekerjasama sejak 2016,” tutupnya.
Begitu juga dengan dukungan unit pengelolaan pupuk organik yang bernama Pos Bidik di Desa Cenda Pura, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai. Dimana berhasil menjadi penggerak unit produksi pupuk kompos alternatif dari pupuk kimia, pupuk organik Pos Bidik saat ini mampu menjawab penggunaan pupuk organik di Toili dan sekitarnya.
Pembina Pos Bidik, Fahmi A. Rizal, SSTP bercerita bahwa pada saat pembangunan Pos Bidik sempat terkendala karena belum ada tempat lokasi tanah. Namun, ia akhirnya menggunakan pake tanahnya sndiri dan kemudian membangun unit pupuk organik. Ternyata bangunan tersebut mendapatkan bantuan dari JOB Tomori dimana bahan untuk rumah unit Pos Bidik menggunakan limbah pengeboran yang kemudian di buat batako.
“Kita biasanya hasilkan 170 ton pupuk dengan modal 6 juta. Nah rata2 masyarakat disini itu punya sapi sehingga harapan kita bisa masyarakat bisa buat pupuk organik sendiri, ujar Fahmi, Minggu, (1/12/2024).
Menurut Fahmi, saat ini mereka mampu menaikkan kapasitas produksi pupuk organik Pos Bidik, dimana tahun ini, Pos Bidik mampu memproduksi 335 ton pupuk organik.
Ruru Rudianto, Relation Section Head JOB Tomori menjelaskan program CSR berkelanjutan merupakan kerjasama antara pemerintah desa simber harjo dan perusahaan yang telah lama di kembangkan.
“Program csr pertanian berkelanjutan merupakan berkolaborasi klompok tani dan desa. kita mengidentifikasi apa yg menjadi masalah sehingga buatkan program dan menangananinya,” ungkap Ruru.
Seperti penanganan hama tikus, Ruru menjelaskan bahwa perusahaan bersama pemerintah Desa mengembangkan inovasi ramah lingkungan dimana menggunakan burung hantu sebagai predator untuk memburu tikus tikus yang ada di sawah.
“Kita kembangan burung hantu sebagai predator alami hama tikus di sawah. Program ini yang di jalankan bersama comdev. Sehingga sudah ada rumah karantina burung hantu,” ujarnya.
Untuk masalah masalah pupuk, JOB Tomori juga membuat program pupuk. Dimana adanya program rumah pupuk yang bekerjasama dgn kelompok tani. Begitu juga dengan krisis air, kita buat program air inovasi menggunakan pompa air berbasis kincir angin yang sudah dicoba di paisubololi.
“Beberapa yang berhasil kita tularkan ke petani yg lain. Ini sebagai eko wisata edukasi untuk petani lainnya,” pungkasnya.