Ex Situ Maleo Center, Bukti Komitmen DSLNG Menjaga Kelestarian Burung Maleo di Banggai

Ex Situ Maleo Center, Bukti Komitmen DSLNG Menjaga Kelestarian Burung Maleo di Banggai

PT. Donggi Senoro LNG melepasliarkan anakan Burung Maleo di Suaka Margasatwa Bangkiriang. (foto:Muhajir Badjeber/Transsulawesi)

Transsulawesi.co, Batui – Sejak diresmikan 11 tahun silam, Maleo Center PT. Donggi Senoro LNG (DSLNG) menjadi fasilitas konservasi burung endemik Sulawesi, Maleo (Macrocephalon maleo) dengan komitmen melestarikan spesies burung endemik Sulawesi yang kian terancam populasinya. 

Muhtar Hasan, pria kelahiran Kecamatan Batui ini menjadi salah satu saksi bagaimana komitmen DSLNG dalam melestarikan Maleo melalui konservasi ex situ Maleo Center yang dimulai sejak 2013. Bekerja di Maleo Center DSLNG, Muhtar sosok yang merawat telur-telur Maleo di mesin inkubator dan merawat burung-burung Maleo di penangkaran.

Muhtar bertanggung jawab memperhatikan burung-burung maleo yang ada di penangkaran Maleo Center. Begitu juga untuk mentaskan telur maleo, Muhtar rutin mengontrol suhu di inkubator agar selalu stabil selama 80 hari. Karena proses menetaskan telur maleo menggunakan mesin inkubator tidaklah singkat dan butuh perhatian khusus. 

Melalui tangannya, Muhtar banyak membantu membidani menetasnya 127 ekor anakan maleo. Telur-telur burung maleo yang ditetaskan merupakan sitaan dari tangan-tangan tidak bertanggung-jawab oleh BKSDA yang kemudian diserahkan kepada DSLNG untuk diselamatkan melalui alat inkubator hingga menetas. Proses penetasan telur-telur Maleo di Maleo Center merupakan kerjasama DSLNG dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah dan peneliti Maleo dari Universitas Tadulako Palu.

“Urus maleo yang berada di penangkaran, dan suhu di mesin inkubator tetap stabil,” ujar Muhtar Hasan.

Anakan maleo yang berhasil ditetaskan kemudian di rawat di kandang-kandang yang tersedia di ex situ maleo center hingga berusia 2-3 bulan. Anakan Maleo membutuhkan waktu tersebut untuk bisa mengepakkan sayapnya agar bisa terbang bebas dihabitat aslinya saat dilepasliarkan.

Anakan Maleo yang berhasil ditetaskan mesin inkubator Maleo Center DSLNG. Foto: Muhajir Badjeber

Sejauh ini, fasilitas konservasi yang berada di area Kilang LNG Donggi-Senoro di Desa Uso, Kecamatan Batui ini telah berhasil melepasliarkan 127 anakan maleo hasil konservasi ke Suaka Margasatwa Bakiriang  yang berada di antara Kecamatan Batui dan Sinorang.

Upaya DSLNG dalam menjaga dan melestarikan burung maleo melalui program konservasi ex situ telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah, dimana targetnya yaitu menumbuhkan populasi maleo sebanyak 10 persen setiap 5 tahunnya. Karena pada tahun 2013 hanya ada 557 ekor maleo yang hidup dimana setiap tahunnya burung maleo hanya akan menghasilkan rata-rata 10 butir telur saja dan bertelur setiap 18 hari sekali.

Menurut data BKSDA Sulawesi Tengah, pada 2019 tercatat hanya 300 pasang maleo saja yang berada pada habitatnya di Kabupaten Banggai. Rusaknya ekosistem alam, menjadi tantangan berat untuk melestarikan Maleo. Kemudian kurangnya kesaara masyarakat yang memburu telur-telur Maleo untuk dijual. Harga telur burung maleo dijual dengan harga 50-100 ribu perbutirnya.

Saat ini Maleo center juga menjadi pusat edu-wisata, yaitu pusat edukasi dan wisata untuk masyarakat, pusat integrasi antara kegiatan-kegiatan CSR DSLNG, salah satunya program pelestarian burung maleo.

Pusat Konservasi Eksitu Maleo DSLNG mendapatkan penghargaan dari United Nations Enviromental Program (UNEP), yaitu Badan Perserikatan Bangsa-bangsa yang membidangi lingkungan hidup, atas upaya perusahaan pengolahan gas alam cair ini melestarikan satwa endemik Sulawesi ini di luar habitatnya (eksitu).

Muhajir Badjeber

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.