Ebony, Kayu Hitam Langka Yang Terus Diburu di Sulawesi Tengah

Ebony, Kayu Hitam Langka Yang Terus Diburu di Sulawesi Tengah

Foto: Istimewa

Transsulawesi.com, Banggai – Familiar dengan lagu Paul McCartney dan Stevie Wonder berjudul “Ebony and Ivory”? Secara gamblang, ebony yang dimaksud dalam lagu tersebut adalah kayu eboni, kayu hitam dari Sulawesi.

Sebagai negara tropis, Indonesia dipenuhi dengan beragam varietas kayu yang unggul. Salah satunya adalah kayu eboni atau jenis kayu hitam yang berasal dari Sulawesi.

Jenis kayu ini banyak digunakan sebagai bahan bangunan, kerajinan, dan furnitur. Namun, sama seperti kayu ulin, eboni termasuk jenis yang memiliki sifat pertumbuhan lambat (slow growing species). Sehingga tingkat eksploitasi yang terlalu tinggi menyebabkan pohon eboni semakin langka dari tahun ke tahun.

Maka untuk melindunginya, World Concervation Union (IUCN) memasukkan pohon eboni kedalam daftar spesies yang terancam punah. Eboni masuk dalam kategori vulnerable dalam The 2000 IUCN Red List of Threatened Species. Artinya, kayu ini berada di batas beresiko tinggi untuk punah di alam (rentan terhadap eksploitasi).

Tak hanya itu, sejak tanggal 12 Juni 2013, jenis kayu ini telah masuk Appendix II CITES (Convention on International Trade in endangered Species of Wild Fauna and Flora). Pemerintah Indonesia sendiri sudah memasukkan eboni sebagai salah satu spesies prioritas untuk dilestarikan berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 57/Menhut-II/2008.

Akibat jadi buruan para pembalak dan penyelundup kayu ilegal, kayu eboni di Sulawesi Tengah jadi langka bahkan nyaris punah.

Salah satu langkah yang menuai pujian yakni dimana seorang petani di Kabupaten Parigi Moutong berinisiatif menanam dan mengembangbiakkan ribuan bibit pohon langka ini. Kadria Tjakadang menanam dan menebar sebanyak 5.000 pohon eboni di atas lahan seluas lima hektare di sebuah perbukitan Ranang Kasimbar awal 1990.

Setelah dua puluh tahun, perbukitan Ranang Kasimbar yang dulunya tandus kini berubah menjadi hutan eboni. Sayangnya sang perintis tidak bisa melihat hasil jerih payahnya karena telah meninggal beberapa tahun lalu. Namun Kadria tak perlu kecewa karena usahanya kini telah diwariskan dan diteruskan sang istri tercinta Haderiah.

Mulanya warga menganggap usaha suami istri ini gila, sia-sia dan hanya buang-buang tenaga. Namun Kadria dan istrinya tidak peduli. Selain ingin melestarikan kayu eboni dari kepunahan, ia juga berharap hasil jerih payahnya ini kelak akan bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Atas jerih payahnya ini Kadria telah dua kali menerima penghargaan dari Menteri Kehutanan dan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong. Penghargaan itu tidaklah berlebihan. Maklum usaha pelestarian lingkungan ini merupakan yang pertama di Kabupaten Parigi Moutong.

(mhr)

 

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.